Skip to main content

Bunga itu pun Mati

"Memaafkan, Menerima dan Berserah.."


Aku merasa ini lah tugas dalam penyembuhan luka batin ini..

Seminggu berlalu sejak kelopak ku berguguran..

Ku penuhi hari2 di kegelapan kamar dengan lantunan doa, meditasi dan ritual air berkat.


Hari pertama ku lewati seperti tanpa nyawa..

Rasanya aku tak ingin menghadapi hari esok..

Rasanya perih kenyataan yang harus ku terima..


Bagaimana mungkin, setelah berbagai hal menyakitkan yang ku alami harus aku lagi yang menanggung akibatnya?

Terasa tidak adil.

Bagimana mungkin segala kegagalan kisah cinta ku selama ini di sebabkan oleh kesalahan orang tua ku sendiri.

Tidakah cukup bagi Tuhan kehancuran ku

Jatuh bangun yang ku hadapi sendirian tanpa uluran tangan siapa pun selama ini.

Aku pendam semuanya sendiri berbungkus ceria ku.

Tidak adil.


Sekarang, aku di minta untuk memaafkan, menerima dan berserah pada kehendak Tuhan


Arrrggggghhhh!!

Takdir macam apa ini!

🌻

Ku telusuri google, youtube dan berbagai sumber penyembuhan luka batin ini..

Tidak ada cara lain, selain 3 cara sialan itu.

🌻

Beberapa hari ini aku lakukan meditasi

Ku temui gadis kecil yang meringkuk ketakutan di rumah lama ku..

Dia tidak menangis, tapi tubuhnya gemetar ketakutan.

"Kamu benar benar anak yang kuat ya nak dari dulu" ucapku..

Kamu tidak pernah menangis di depan orang, kamu hanya menumpahkan tangismu dalam kamar itu dengan salib Tuhan yang di sambungkan dengan kawat karena sudah patah.

Ku rayu gadis itu.

Tidak perlu takut, kamu tumbuh jadi wanita cantik sekarang..

Pekerjaan mu bagus.

Kita sudah punya rumah yang bagus sekarang, dan kamu sudah punya uang untuk memperindah rumah itu.

Apa pun yang ku katakan, dia masih meringkuk ketakutan..


Aku tinggalkan dia, berharap di pertemuan berikutnya dia membaik..

🌻

Ku temui lagi anak itu di hari berikutnya,

Dengan berbagai janji.. 

Bahwa aku akan membawanya ke banyak momen indah dan membahagiakan.

Aku akan memberinya makanan terbaik yang aku bisa beri.

Aku akan memberi kualitas hidup terbaik untuknya..

Anak itu mulai manatapku, mata penuh harapan..

Perlahan dia bangkit dari ringkuknya..

Mendekat padaku..

Dia mempercayai ku...

🌻

31 Desember 2024

Hari pertama aku memberanikan diri meminta berkat.

Ku silangkan tangan ku sebagai isyarat aku bukan katolik..

Campur aduk rasanya, tapi melegagakan.

Sudah lama aku meminta untuk di beri jalan menuju katolik

Hanya ketakutan ku pada agama apa kah kelak jodohku membuat aku tertahan dengan ingin ini.

Sudah 2 kali Bunda Maria hadir dalam mimpi ku, dan hati ini semakin yakin bahwa mungkin ini pilihan di hidupku, menjadi seorang katolik.

🌻

1 januari 2025

Sesak di dada itu datang lagi..

Apalagi ini ku pikir..

Bukankah anak itu sudah bersedia mengampuni pikirku.


Ku kunci kamar ku, mengambil posisi tidur tenyaman dengan musik instrumen "sentuh hati ku"

Pukul 11 siang, 1 jam menuju jam doa rutin ku..

🌻

Demi nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, Amin..

Allah membawa ku ke banyak memory..

Bukan lagi memory kecilku kali ini

Ternyata sebanyak ini luka yang belum sembuh..

Air mata ku deras mengalir

Satu persatu memory itu aku ampuni, dan berdoa untuk orang2 yang ada pada memory itu..

Tapi, 1 memory seperti membawa ku kepada 1 missi hidup..

Dua anak kembar bekas atasan ku di perusahaan pertama aku berkerja..

Kemudian membawa ku kepada ingatan kerinduan ku akan anak2 panti..

Baiklah, kita lanjutkan kepada memory lain.

Aku kirimkan doa baik kepada atasan ku Indri..

Aku mengampuninya..

Pengampunan ku banyak siang itu, tak terasa sejam berlalu ku lanjutkan dengan doa rutin ku..

🌻

Rasanya ada yang masih menyangkut di diri ini..

Berserah...

Jantungku berdetak kencang, tiap ku bayangkan pria yang sangat ku cintai itu menjadi milik orang lain..

Damai ku hilang

Intimidasi demi intimidasi hadir di pikiran ku.

Bagaimana mungkin, orang seperti ku berharap layak menerima hidup bahagia.

Jika pun aku pulih, aku tidak bisa merubah darimana aku berasal.

Apakah mungkin aku bisa pulih total?

Apa mungkin aku benar benar akan mendapatkan kebahagiaan di depan sana.

Usia ku akan 33 tahun ini, siapa orang baik yang masih tersisa untuk ku

Bagaimana kondisi rahim ku

Berbagai intimidasi itu membunuhku, aku mati.



Comments

Popular posts from this blog

 Tuhan aku mencintai anak Mu yang satu itu... Genggaman tangannya adalah genggaman teraman yang pernah aku rasa.. Matanya adalah mata terteduh yang pernah aku lihat.. Senyumnya adalah senyum paling ku nantikan.. Aku mohon, berkatilah setiap langkahnya.. Sehatkan badannya Mudahkan rejekinya Barangkali, ada hari dimana Engkau setuju mengizinkannya bersatu dengan ku..

Benih itu hidup baru

 2 Januari 2025 Aku bangun dengan hati yang sangat perih.. Rasanya lebih baik mati daripada hidup dengan kelopak yang hancur ini Aku ijin kerja Doa rutin itu tetap aku jalankan Langkah ku lemah Badan ku lemah Ku cari lagi memory mana yang harus ku ampuni, Mungkin masih ada sehingga aku mengalami ini pikir ku.. Ku pejamkan mata, memory nya datang namun sedih nya sudah hilang.. Sudah ku terima dan ampuni.. "Lalu, apalagi Tuhan?" Tanya ku.. "Berserah" suara yang sangat lembut itu menyapa.. 🌻 Jantungku kembali berdetak kencang Intimidasi itu datang lagi Tak ku dapatkan apa pun sampai jam 12 siang. Ku jalankan doa rutin ku Setelah itu aku meminta Tuhan datang padaku Ku pejamkan mata ku Apa pun tak ku dapat Hanya kegelapan tapi... kali ini berbeda.. Ada damai sejahtera disana.. Rasanya tenang.. Entah berapa lama aku sudah di bawa dalam ketenangan itu, aku hanya diam tapi tidak tertidur.. Lalu aku buka mata, menenggak sedikit air Kemudia melanjutkan memanggil Allah.. Kali...